Wednesday, November 4, 2009

Imam Muslim

Nama lengkap beliau ialah Imam Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Dia dilahirkan di Naisabur tahun 206 H. Sebagaimana dikatakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya "Ulama'ul Amsar. Imam Muslim adalah penulis kitab syahih dan kitab ilmu hadits. Dia adalah ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal sampai kini.

Kehidupan dan Pengembaraannya


Kehidupan Imam Muslim penuh dengan kegiatan mulia. Beliau meran-tau ke berbagai negeri untuk mencari hadits. Dia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dia belajar hadits sejak masih kecil, yakni mulai tahun 218 H. Dalam perjalanannya, Muslim bertemu dan berguru pada ulama hadis.


Di Khurasan, dia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray, dia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan. Di Irak, dia belajar kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz, berguru kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'ab. Di Mesir, belajar kepada 'Amar bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan berguru kepada ulama hadits lainnya.


Imam Muslim berulangkali pergi ke Bagdad untuk belajar hadits, dan kunjungannya yang terakhir tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering berguru kepadanya. Sebab dia mengetahui kelebihan ilmu Imam Bukhari. Ketika terjadi ketegangan antara Bukhari dengan az--Zuhali, dia memihak Bukhari. Sehingga hubungannya dengan az-Zuhali menjadi putus. Dalam kitab syahihnya maupun kitab lainnya, Muslim tidak memasukkan hadits yang diterima dari az-Zuhali, meskipun dia adalah guru Muslim. Dan dia pun tidak memasukkan hadits yang diterima dari Bukhari, padahal dia juga sebagai gurunya. Bagi Muslim, lebih baik tidak memasukkan hadits yang diterimanya dari dua gurunya itu. Tetapi dia tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

Wafatnya

Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan di makamkan di kampong Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Selama hidupnya, Muslim menulis beberapa kitab yang sangat bermanfaat.

Para Gurunya


Imam Muslim mempunyai guru hadits sangat banyak sekali, diantaranya adalah: Usman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaiban bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab, 'Amar an-Naqid, Muhammad bin Musanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Sa'id al-Aili, Qutaibah bin sa'id dan lain sebagainya. 


Murid yang meriwayatkan Haditsnya


Banyak para ulama yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim, bahkan di antaranya terdapat ulama besar yang sebaya dengan dia. Di antaranya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi isa at-Tirmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Syahih Muslim. Dan masih banyak lagi muridnya yang lain.


Pujian para Ulama


Apabila Imam Bukhari sebagai ahli hadits nomor satu, ahli tentang ilat--ilat (cacat) hadits dan seluk beluk hadits, dan daya kritiknya sangat tajam, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari, baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan, karena Muslim adalah salah satu dari muridnya. Al-Khatib al-Bagdadi berkata: "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya." Pernyataan ini bukanlah menunjukkan bahwa Muslim hanya seorang pengikut saja. Sebab ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.
Imam Muslim mendapat pujian dari ulama hadis dan ulama lainnya. Al--Khatib al-Bagdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, katanya "Saya me-lihat Abu Zur'ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dari pada guru- guru hadits lainnya. Ishak bin Mansur al-Kausaj berkata kepada Muslim: "Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin."
Ishak bin Rahawaih pernah mengatakan: "Adakah orang lain seperti Muslim?". Ibnu Abi Hatim mengatakan: "Muslim adalah penghafal hadits. Saya menulis hadits dari dia di Ray." Abu Quraisy berkata: "Di dunia ini, orang yang benar- benar ahli hadits hanya empat orang. Di antaranya adalah Muslim." Mak-sudnya, ahli hadits terkemuka di masa Abu Quraisy. Sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.


Kitab tulisan Imam Muslim


Imam muslim mempunyai kitab hasil tulisannya yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya:
1. Al-Jamius Syahih

2. Al-Musnadul Kabir Alar Rijal
3. Kitab al-Asma' wal Kuna
4. Kitab al-Ilal
5. Kitab al-Aqran
6. Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal
7. Kitab al-Intifa' bi Uhubis Siba'
8. Kitab al-Muhadramain
9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahidin
10. Kitab Auladus Sahabah
11. Kitab Auhamul Muhadisin. 
Kitabnya yang paling terkenal sampai kini ialah Al-Jamius Syahih atau Syahih Muslim.

Kitab Sahih Muslim


Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al Jami’ as-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.


Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahihnya.

Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: "Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits."


Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : "Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.


Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.


Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: "Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits."


Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: "Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini."


Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula."


Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.


Sumber: Kitab Hadis Sahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah*

Hadis Bercakap di dalam Masjid

Matan Hadis
الحديث في المسجد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب
Maksudnya :” Bercakap didalam masjid menghapuskan kebaikan sebagaimana api membakar kayu api “.

Kitab Yang Mengeluarkan Hadis Ini
Ihya` Ulumu a-Din oleh Hujjatul Islam al-Ghazali r.h. juzuk 1 m/s 152.

Hukum Hadis Ini
Sebagaimana di katakana oleh Imam Ibnu Iraqi ketika mana membuat takhrij hadis di dalam kitab Ihya` beliau mengatakan bahawa hadis ini dia tidak mendapati hadis ini ada asal baginya (pent- iaitu tidak terdapat didalam kitab hadis ). ( Takhrij Ihya` juzuk 1 m/s 107 ).
Manakala kata Imam Fairuzabady bahawa dia tidak menemuainya ( pent-tidak menemuinya didalam kitab hadis ). ( al-Fawaidul al-Majmuah juzuk 1 m/s 25 ).
Berkata penulis Kasyful Khafa` bahawa yang masyhur didalam hal ini bahawa harus bercakap didalam masjid. ( Kasyful Khafa` juzuk 2 m/s 106 ).
Hadis ini juga di masukkan oleh pengarang Tazkiratul Maudhuah ( peringatan tentang hadis-hadis palsu ). ( Tazkiratul al-Maudhuah juzuk 1 m/s 249 ).
Maka telah jelaslah kepada kita bahawa kalam yang kebanyakan para ustaz-ustaz di Malaysia khususnya itu sebagai Hadis adalah tidak benar, dan yang sebenarnya kalam itu sebenarnya bukan Hadis sehingga ulama` yang muktabar didalam bidang hadis seperti Ibnu Iraqi tidak menjumpainya..

Monday, November 2, 2009

JAIS Mengamuk…???

Terkejut ana tengah hari tadi apabila ana melihat akhbar Kosmos yang mana muka utamanya menyatakan bahawa Dr Asri bekas Mufti Perlis di tangkap di Selangor akibat menyampaikan cerama Agama tanpa ada tauliah daripada JAIS..

Itu bukan persoalan utama yang ana ingin fokuskan, tetapi yang utama ialah seorang tokoh Ulama muda Negara di tangkap hanya kerana menyampaikan “ Agama “ kepada masyarakat.

Kalau yang ditangkap orang macam ana ni tidak menghairankanlah, tetapi ini seorang bekas Mufti yang bertaraf Dr daripada UIAM yang ditahan disebabkan kerana tiada tauliah daripada JAIS.

Bagi ana le, baik suruh kerajaan PUSAT tutup sahaja UIAM tu kerana kalau mendapat PHD di sana pun bukan mendapat pengiktirafan dalam Negara untuk menyampaikan agama kepada masyarakat.

Hampir terkaku ana bila mendengar betapa susahnya untuk menyampaikan agama di dalam Negara kita ini. Seorang sarjana pun di tahan kerana berceramah agama. Cuba kita bayangkan kalaulah suasana ini berterusan di dalam Negara kita yang kita anggap sebuah Negara islam yang mana di halang untuk menyampaikan Agama Islam tercinta, mungki juga kita akan menjadi macam Negara Turki kot.

Kalaulah kita melihat dari sudut “ Ghuzwu Fikr “ serangan pemikiran yang dilakukan oleh golongan anti islam, inilah salah satunya cara untuk menghalang penyebaran Islam secara menyeluruh di pelusuk dunia.

Golongan orentalis sudah lama bertapak didalam system pendidikan Negara, tetapi hari ini semakin jelas kesannya tampak timbul benih-benih yang akan merosakkan agama Islam yang Mulia ini.

Kalaulah kerana kedengkian yang menyebabkan perkara ini berlaku, ini menambahkan lagi kekecewaan ana terhadap sistem pentadbiran Majlis Agama Islam didalam Negara kita ini.

Kalaulah kita tidak menyukai Beliau sekalipun, lakukanlah muzakaran, debat dan selainnya secara terbuka supaya kita semua mengetahui kebenaran.. kembalilah merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah supaya kita tidak semakin jauh daripada keduanya, firman Allah taala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Maksudnya :” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya “. Surah an-Nisa ayat 59.

Manakala Sabda Rasulullah s.a.w :

تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا  كتاب الله و سنة نبيه صلى الله عليه

Maksubnya :” Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang mana kalau kamu berpegan kepada keduanya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, iaitu Kitab Allah ( Al-Quran ) dan Sunnah Rasulullah s.a.w ( al-Hadith ) ”.

Firma Allah Taala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Maksudnya :” Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan “. Surah al-Maidah ayat 8.

Maka marilah kita semua kembali kepada apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNYA tanpa Khilaf lagi.

Firma Allah Taala :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Maksudnya :” Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? “. Surah al-Maidah ayat 104.


Ibnu Taimiyyah

Mengenali Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Beliau ialah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Abdullah bin Taimiyyah. Lebih dikenali dengan Taqyuddin Ibnu Taimiyyah. Dilahirkan di Harran pada 10 Rabiul Awal 661H dan dibesarkan di Damsyiq, Syria.
Beliau dibesarkan dalam suasana ilmu sehinggalah beliau mampu berfatwa sebelum mencapai umur 20 tahun. Mempunyai ingatan yang sangat hebat sehingga dikatakan bahawa beliau tidak akan lupa apa sahaja yang diingatinya. Keberaniannya dalam menegakkan kebenaran tidak hanya pada lidah dan pena, bahkan beliau sendiri mengetuai angkatan tentera berjihad menentang pencerobohan Tatar. Mempunyai penulisan yang sangat banyak sehingga dikatakan penulisannya melebihi 500 jilid buku. Sangat kuat beribadah dan terlalu zuhud dan juga sangat pemaaf. Diiktiraf oleh ramai ulamak sebagai seorang mujtahid mutlaq. Dikatakan mana-mana hadis yang tidak diketahuinya adalah bukan hadis yang sebenar. Beliau pernah berkata: “Sesungguhnya kebunku berada di dadaku. Ia akan bersamaku di mana saja daku berada. Penjara bagiku adalah tempat khalwat (dengan Allah SWT), pembunuhanku adalah syahid dan buang daerah bagiku adalah melancong”.
Pujian ulamak terhadapnya tidak tertulis banyaknya. Berkata Ibnu Daqiqil Id: “Setelahku bertemu dengan Ibnu Taimiyyah, aku melihat seorang lelaki yang mana semua ilmu berada di kepalanya, dia akan ambil atau tinggalkan apa sahaja ilmu yang dia mahu”. Katanya lagi: “Aku tak sangka yang Allah SWT masih lagi menciptakan makhluk yang (sebegitu hebat) sepertimu”. Berkata Ibnu Sayyidinnas: “Kalaulah beliau bercakap dalam tafsir, maka beliaulah pembawa benderanya (tiada tandingan), bila berfatwa dalam fiqh, maka beliaulah yang sangat memahami tujuannya, bila bercakap mengenai hadis, maka beliaulah pemilik ilmu dan perawinya, bila bercakap mengenai perbandingan agama dan mazhab, maka tidak akan didapati sesiapapun yang setanding dengannya dan yang akan mengatasinya.”.
Berkata Ibnu az-Zamlakani yang beberapa kali berdebat ilmiah dengan Ibnu Taimiyyah: “Bila saja beliau ditanya tentang sesuatu ilmu, maka penonton dan pendengar akan menyangka beliau hanya mengetahui ilmu itu (kerana kepakarannya dalam ilmu tersebut, sedangkan seluruh ilmu dikuasainya) dan semua akan mengiktiraf bahawa tiada manusia seperti beliau”. Beliau juga berkata: “Tidak pernah ditemui (ulama’ yang hebat) sepertinya semenjak empat atau lima ratus tahun”. Berkata Imam az-Zahabi: “Beliau adalah seorang yang tidak layak orang yang sepertiku untuk menceritakan tentang sifatnya. Kalaulah aku bersumpah di hadapan ka’bah, nescaya aku akan bersumpah bahawa aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya dan beliau juga tidak pernah melihat orang yang setandingnya (dalam keilmuan)”. Berkata al-Hafiz al-Mizzi: “Tidak pernah didapati manusia seperti Ibnu Taimiyyah semenjak empat ratus tahun”. Berkata Baha’uddin as-Subki: “Demi Allah, tidak ada yang membenci beliau melainkan orang yang jahil atau yang menurut nafsu. Orang yang jahil tidak mengetahui apa yang diucapkannya dan yang menurut nafsu pula dihalang oleh nafsunya untuk menerima kebenaran setelah mengetahuinya”. Murid beliau yang tersohor ialah Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Beliau meninggal dunia pada 20 Zulqe’dah tahun 728H di satu penjara di Damsyiq setelah dua tahun di dalamnya. Jenazahnya dihadiri ratusan ribu manusia. Beliau sempat mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 80 kali semasa di penjara. Pada kali yang ke 81, beliau hanya sempat membaca sehingga ayat yang bermaksud: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan berada dalam syurga-syurga dan sungai-sungai. Pada kedudukan yang sebenar di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Imam Yahya Bin Ma`in

Kehebatan Imam Yahya bin Ma'in dalam ilmu Hadis.
Imam az-Zahabi dalam kitabnya "Siyar A'lamun Nubala" menyatakan: "beliau ialah al-Imam al-Hafiz al-Jihbiz (pakar hadis), Sayyidul Huffaz, Malikul Huffaz, Syeikhul Muhaddisin, Abu Zakariyya, Yahya bin Ma'in bin Aun bin Ziad bin Bistom. Beliau bukanlah berketurunan arab, cumanya beliau menjadi wala' (dan dianggap sebahagian daripada) Bani Mur (satu kabilah arab). Kerana inlah beliau digelar al-Murri.
Dilahirkan dan dibesarkan di Baghdad. Dan beliau merupakan salah satu tokoh muhaddisin yang agong. Dilahirkan di Baghdad pada 158H, dan membesar di situ. Mula menulis ilmu-ilmu ketika usianya belum mencecah sepuluh tahun. Ayahnya merupakan salah seorang pegawai yang hebat kepada Abdullah bin Malik, pembesar ar-Ray (nama kawasan). Ayahnya meninggalkan pusaka untuknya sebanyak satu juta darham, dan kesemuanya itu habis dibelanjakannya untuk mencari dan mempelajari hadis sehinggalah sampai kepada tahap yang mana beliau tidak mempunyai selipar untuk dipakai.
Beliau pernah mengambil hadis daripada Abdullah bin al-Mubarak, Husyaim bin Basyir, Ismail bin Iyash, Sufyan bin Uyainah, Abdul Razaq as-Son'ani di Yaman, Waki' bin al-Jarrah, Yahya bin Said al-Qattan, Abdul Rahman bin Mahdi dan ramai lagi, samada di Iraq, Syam, Semenanjung Arab, Mesir dan Hijaz. Antara yang mengambil hadis daripada beliau pula ialah Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Dawuud, Abbas ad-Duriy al-Baghdadi yang merupakan periwayat ilmunya, Abu Zur'ah ar-Rozi, Abu Hatim ar-Rozi, Usman bin Said ad-Darimi, Abu Ya'la al-Mausili dan ramai lagi yang tidak terhitung ramainya.
Ibnu Ma'in menulis satu juta hadis dan menulis satu hadis yang sama sebanyak lima puluh kali.
Berkata Ali bin al-Madini: "Kemuncak ilmu manusia terhenti pada Yahya bin Ma'in. Berkata Abdul Khaliq bin Mansur: “aku pernah berkata kepada Abdullah bin ar-Rumi: aku mendengar beberapa rang yang mengambil (belajar) hadis daripada Yahya bin Main mengatakan bahawa : “telah menceritakan kepada kami oleh seorang yang tidak pernah terbit matahari kepada seorang yang lebih hebat daripadanya” (mereka maksudkan ialah Yahya bin Ma'in.), lalu Abdullah bin ar-Rumi menjawab kepadaku: “adakah engkau merasa hairan (dengan gelaran tersebut)”? Aku sendiri pernah mendengar bahawa Ali bin al-Madini menyatakan bahawa: “Aku tidak pernah melihat manusia sehebatnya, dan kami tidak tahu seorang pun semenjak Nabi Adam lagi yang menulis hadis sebanyak apa yang ditulis oleh Yahya bin Ma'in”. Berkata Muhammad bin Nasr al-Marwazi: “aku pernah mendengar Yahya bin Ma'in menyatakan : "aku telah menulis dengan tanganku ini satu juta hadis". Berkata Imam az-Zahabi: "Yang beliau maksudkan dengan bilangan yang begitu banyak ini ialah beliau mengulang-ngulang menulis satu hadis yang sama. Tidakkah kamu lihat yang mana beliau pernah nyatakan bahawa: "Kalaulah kami tidak menulis sesuatu hadis itu sebanyak lima puluh kali, nescaya kami tidak akan kenal (hafal) hadis tersebut".
Semua hadis yang tidak dikenali oleh Yahya bin Ma'in bukanlah Hadis.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Mana-mana hadis yang tidak diketahui Yahya bin Ma'in, maka sebenarnya ia bukanlah hadis. Memang Allah SWT ciptakan beliau untuk perkara ini (hadis), kerana itulah beliau mampu menjelaskan pembohongan para pemalsu hadis". Berkata Abu Hatim ar-Razi: "Kalaulah kamu melihat seorang Iraq yang menyayangi Ahmad bin Hanbal, maka ketahuilah bahawasanya orang itu adalah ahli sunnah, dan jika kamu melihat seorang Iraq yang membenci Yahya bin Ma'in, maka ketahuilah bahawasanya orang itu adalah pembohong (pereka hadis palsu)".
Metodologi Pengajian Yahya bin Main Dalam Ilmu Hadis
Ibnu Ma'in berkata: "Bila kamu belajar dan menulis hadis, maka tuliskanlah apa sahaja yang kamu dengar (supaya kamu juga dapat mengetahui hadis-hadis palsu), tetapi bila kamu mengajar hadis, maka selidikilah (pastikan hanya hadis sohih sahaja yang kamu ajari itu)". Manhaj yang dibawa oleh Yahya bin Ma'in merupakan manhaj terbaik dalam mencari ilmu dan menyebarkannya. Kata-katanya tadi meupakan perlembagaan yang diambil oleh para muhaddisin dan para ulamak dalam mencari dan menyebarkan hadis.
Banyaknya kitab-kitab yang ditinggalkan oleh Yahya bin Ma'in
Al-Hafiz Solih bin Ahmad mendengar daripada Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah berkata: ayahku menyatakan bahawa Yahyan bin Main telah meninggalkan sebanyak 114 rak buku dan 4 bakul kayu yang penuh berisi kitabnya.
Ibnu Ma'in sentiasa menghalau pembohongan dan pemalsuan terhadap Nabi s.a.w.
Yahya bin Ma'in ini bila mana beliau mengerjakan haji, beliau akan ke Mekah melalui jalan Madinah, dan bila pulang daripada Mekah pun, beliau akan pulang melalui jalan Madinah. Ketika mana beliau keluar mengerjakan haji pada tahun 233H, beliau sampai di Madinah sebelum mengerjakan haji, iaitu pada penghujung bulan zulqaedah. Dan beliau ditimpa sakit serta meninggal pada 23 zulqaedah. Maka orang ramai saling memberitahu mengenai kedatangan beliau dan kematian beliau. Keluarga Bani Hasyim pula mengeluarkan kayu /katil tempat di mana Rasulullah s.a.w. dimandikan. Dan beliau dimandikan di atasnya, Dan sesudah selesai sembahyang jenazah, beliau dikuburkan di perkuburan Baqi'. Para hadirin saling menyebut-nyebut bahawa inilah dia orangnya yang sentiasa menghalang pemalsuan terhadap Nabi s.a.w.